Dolar AS Melemah Terhadap 6 Mata Uang, Departemen Keuangan Amerika Serikat Beri Penjelasan

- 17 Oktober 2020, 11:27 WIB
Ilustrasi uang dolar: Saat ini, Sabtu 17 Oktober 2020, Dolar AS melemah terhadap enam mata uang karena telah terdampak dari kebangkitan Virus Corona.
Ilustrasi uang dolar: Saat ini, Sabtu 17 Oktober 2020, Dolar AS melemah terhadap enam mata uang karena telah terdampak dari kebangkitan Virus Corona. /Ringtimes Bali

PR CIREBON – Mata uang Dolar AS melemah terhadap beberapa mata uang utama pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), memangkas beberapa kenaikan minggu ini yang dibangun di atas peningkatan kehati-hatian atas lonjakan global dalam kasus Virus Corona dan memudarnya prospek paket stimulus AS sebelum pemilihan presiden pada 3 November mendatang.

Greenback mengurangi sebagian kerugian pada Jumat, 16 Oktober 2020 setelah data penjualan ritel AS yang kuat membantu meredakan kekhawatiran tentang kesehatan konsumen AS.

Pada Indeks Dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya turun 0,1 persen menjadi 93,676. Indeks naik 0,7 persen, untuk minggu ini, kenaikan mingguan terbaiknya dalam tiga minggu terakhir.

Baca Juga: Pemerintah Indonesia akan Prioritaskan Palestina di DK-PBB Sebelum Masa Keanggotaan Berakhir

Pembatasan baru untuk memerangi Covid-19 telah diperkenalkan di seluruh Eropa, dan Midwest AS sedang berjuang melawan lonjakan kasus baru, mengancam akan menggagalkan pemulihan ekonomi negara-negara dari guncangan Virus Corona.

Terkait rencana bantuan AS tetap macet dalam negosiasi tiga arah antara Gedung Putih, Senat Partai Republik, dan Demokrat DPR AS.

Setelah defisit anggaran AS mencapai rekor 3,132 triliun Dolar AS selama tahun fiskal 2020, lebih dari tiga kali lipat kekurangan 2019, sebagai akibat dari pengeluaran besar-besaran untuk penyelamatan Virus Corona, tutur Departemen Keuangan AS.

Baca Juga: Resmi Menjadi Suami Istri, Nikita Willy dan Indra Priawan Menangis Lega dan Bahagia

“Optimisme pasar tertusuk minggu ini untuk keuntungan greenback di tengah kuartet kekhawatiran atas virus, stimulus, ekonomi AS, dan pemilihan presiden yang semakin dekat,” ujar Analisis Pasar Senior Western Union Business Solutions, Joe Manimbo, dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari Antara.

Pada mata uang safe-haven Yen Jepang menuju kenaikan mingguan 0,2 persen terhadap greenback karena minat investor untuk aset-aset safe haven masih kuat.

Penjualan ritel AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada September.

Baca Juga: Ini Penjelasan KPK Tidak Dilibatkan Dewas Dalam Pembahasan Pengadaan Mobil Dinas

“Kenaikan yang tidak terduga kuar 1,9 persen dalam penjualan ritel bulan lalu menunjukkan ekonomi membawa lebih banyak momentum ke kuartal keempat daripada yang diantisipasi, menentang kekhawatiran bahwa berakhirnya tunjangan pengangguran yang meningkat di musim panas akan membahayakan ekonomi,” ujar Ekonom Senior Capital Economics, Michael Pearce dalam sebuah catatan.

“Tetapi dengan meningkatnya infeksi Virus Corona, kami tidak akan terburu-buru untuk merevisi perkiraan kami bahwa pertumbuhan PDB akan melambat menjadi 4,0 persen per tahun pada kuartal keempat,” katanya.

Poundsterling, menghapus sebagian kenaikan awalnya menjadi diperdagangkan sedikit lebih tinggi dalam sesi berombak pada Jumat, 16 Oktober 2020, setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada kalangan bisnis untuk bersiap-siap dengan Brexit tanpa kesepakatan.***

Editor: Irma Nurfajri Aunulloh

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x