Laut China Selatan Berpeluang Perang Terbuka, MPR: Indonesia Harus Siagakan Kekuatan Militer

- 4 Agustus 2020, 21:58 WIB
Pesawat bomber B-52 bergabung dalam latihan perang bersama kapal induk USS Nimitz (kiri) dan USS Ronald Reagan (tengah) di Laut China Selatan. /AFP/ South Korean Defence Ministry
Pesawat bomber B-52 bergabung dalam latihan perang bersama kapal induk USS Nimitz (kiri) dan USS Ronald Reagan (tengah) di Laut China Selatan. /AFP/ South Korean Defence Ministry /

PR CIREBON - Laut China Selatan dimungkinkan meletuskan perang terbuka antara dua negara besar dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok yang beberapa waktu terakhir terlibat konflik hingga meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut.

Sebagai informasi, konflik Laut China Selatan dilakukan antara dua negara besar yakni Tiongkok dan Amerika Serikat. Di satu sisi, Tiongkok membuat klaim sepihak terhadap Laut China Selatan berdasarkan nine dash line. Sedangkan di sisi lain, AS memutuskan turut ikut campur karena merasa sebagai polisi dunia.

Baca Juga: Ahok Jaga Pertamina dari Ladang Korupsi, Sebut Pasang Pengintai KPK di Sesdekom

Atas sebab itu, perang terbuka yang meletus di Laut China Selatan dikhawatirkan akan membuat seluruh negara di kawasan Asia Tenggara akan terdampak konflik, termasuk Indonesia.

Untuk itu, Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Demokrat, Syarief Hasan meminta pemerintah Indonesia untuk siap siaga mengantisipasi hal yang tak diinginkan.

Terlebih, Indonesia tidak menginginkan terjadinya perang terbuka di Laut China Selatan, sehingga kesiapsiagaan Indonesia harus terus ditingkatkan di wilayah Laut Natuna Utara.

Baca Juga: Pengacara Klaim Kasus Denny Siregar Selesai, Pimpinan Ponpes Tasik: Kami Tabayyun dengan Polisi

"Indonesia tidak menginginkan terjadi adanya perang terbuka di Laut China Selatan karena seluruh negara Asia Tenggara akan merasakan dampaknya, termasuk Indonesia. Sehingga, untuk itu perlu perhatian khusus dalam membangun kekuatan militer untuk meminimalisir bahkan mencegah terjadi perang terbuka," ungkap Syarief Hasan dalam keterangan tertulis, seperti dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari Antara News pada Senin 3 Agustus 2020.

Lebih lanjut, Syarief Hasan militer di Natuna Utara secara khusus dan Indonesia secara umum harus ditingkatkan untuk mempertahankan wilayah Indonesia jika ada gangguan atau melewati atau masuk wilayah Indonesia saat sewaktu-waktu terjadi perang terbuka.

“Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap Natuna Utara,” tegas Syarief Hasan.

Baca Juga: MAKI Menduga Harun Masiku Sudah Mati, KPK Justru Sebut Sudah Kantongi Jejaknya Masih di Indonesia

Lebih dari itu, Syarief Hasan juga menjelaskan adanya potensi perang terbuka dapat terlihat saat Amerika Serikat mengirim dua kapal induknya, USS Nimitz dan USS Ronald Reagan ke Laut China Selatan untuk menjalani latihan tempur.

Kemudian berikutnya, Angkatan Laut Amerika Serikat juga mengerahkan dua kapal penjelajah dan dua kapal perusak dalam latihan yang digelar pada 23 Juli 2020.

Sedangkan, Syarief Hasan memandang Tiongkok juga melakukan latihan militer dua hari setelah latihan gabungan Amerika Serikat, Australia, dan Jepang selesai digelar.

Baca Juga: Presiden Jokowi Punya Cucu ke-4, Adik dari Sedah Mirah Lahir dengan Operasi Caesar

Ini pun terlihat dari Tiongkok yang sejak awal membangun pangkalan militer di pulau buatan di Laut China Selatan, sekaligus mengirimkan dua pesawat pembomnya untuk menggertak Amerika Serikat dan Australia di Laut China Selatan.

Dengan demikian, Indonesia harus membangun kekuatan militer untuk memberikan rasa aman, dan menguatkan pertahanan Indonesia terutama di perbatasan.

Hanya saja, hal utama  yang harus dilakukan Indonesia adalah diplomasi, sehingga menghindari potensi terjadinya perang terbuka, terutama di Laut China Selatan yang berbatasan dengan Perairan Natuna Utara.

Baca Juga: Ikut Ditetapkan Jadi Tersangka usai Bela Djoko Tjandra, Anita Kolopaking Minta Perlindungan LPSK

“Pemerintah harus mengambil pembelajaran diplomasi ala SBY dengan semangat million friends and zero enemy. Akan tetapi, jika memang terpaksa ada perang terbuka, maka Indonesia juga harus memperkuat militernya untuk melindungi wilayah Indonesia dari dampak perang," pungkas Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut.***

 

Editor: Khairunnisa Fauzatul A

Sumber: Antara News


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah