Terdampak Larangan Mudik Akibat Pandemi, Kemenkeu Siapkan Dua Skema Relaksasi Kredit

27 April 2020, 13:30 WIB
BUS Budiman berhenti beroperasi karena terdampak pemberlakuan PSBB.* /Asep MS /

PIKIRAN RAKYAT - Perusahaan Otobus (PO) saat ini tengah menghadapi kemungkinan terburuk atas dampak pandemi Covid-19. Terlebih, setelah pemerintah pusat resmi mengumumkan larangan mudik lebaran yang berlaku di seluruh daerah di Indonesia tahun ini. 

Untuk itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah menyiapkan peraturan yang di dalamnya terdapat skema relaksasi pembayaran kredit bagi PO yang saat ini terancam tumbang.

Hal ini disampaikan Staf Khusus Menkeu Yustinus Prastowo dalam diskusi virtual yang bertajuk 'Menyelamatkan Layanan Transportasi Umum dari Dampak Covid-19' pada Minggu, 26 April 2020.

Baca Juga: Kepastian Haji 1441 Diumumkan dalam Waktu Dekat, Pemerintah Indonesia Siapkan Skenarionya

“Stimulus kedua paket untuk 11 sub sektor manufaktur minggu depan ini terbit Peraturan Menteri yang baru, 18 sektor itu akan diberi insentif yang berupa pasal 21 ditanggung pemerintah pasal 22 dan 25 transportasi masuk disini dan ini akan menjangkau sektor yang paling terdampak,” tutur Yustinus Prastowo.

Disebutkan Yustinus, skema pertama adalah cost sharing yang diartikan sebagai penundaan angsuran pokok bagi para debitur menengah.

Dalam penerapannya, pemerintah tidak akan menanggung seluruhnya, tapi dibagi dengan perbankan atau lembaga pembiayaan non-perbankan.

Baca Juga: Cek Fakta: Hoaks Bantuan Sosial Atas Nama Kemensos RI, Simak Faktanya

“Bagaimana terutama bagi para debitur yang sifatnya menengah, pembiayaan akan dicakup di sini berupa penundaan angsuran pokok dan juga bantuan besarannya berapa nanti akan tergantung skema dengan perbankan masing-masing atau lembaga pembiayaan masing-masing karena skemanya bukan pemerintah menanggung semuanya karena skemanya cost sharing,” jelas Yustinus.

Sedangkan, skema kedua adalah dukungan untuk pembiayaan bank dan nonbank memberikan kredit yang akan dibuat dengan menggandeng OJK dan Bank Indonesia.

Dengan begitu, ketiga segmen yang meliputi segmen kecil, menengah dan besar akan dapat bantuan pinjaman lunak yang tidak memberatkan dan bisa untuk bertahan.

Baca Juga: Wujud Kepedulian di Bulan Ramadhan, Alumni Smansa 94 Cirebon Bagi-Bagikan Takjil

“Mereka akan mendukung itu bagaimana skemanya nanti akan dibuat bersama OJK dan Bank Indonesia, tapi kita pastikan baik yang segmen kecil menengah maupun besar itu bisa mendapatkan bantuan.

Sehingga bank pembiayaan itu berani untuk memberikan pinjaman dalam skema yang lunak tidak memberatkan yang penting ini bisa bertahan. Sekarang ini kita hanya berpikir untuk bertahan hidup tidak muluk-muluk,” tambah Yustinus diberitakan Antara.

Lebih lanjut, Yustinus memastikan pemerintah mendukung Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) supaya menjamin lebih besar lagi dan mendukung seperti Askrindo dan Jamkrindo, sehingga bank berani melakukan restrukturisasi.

Baca Juga: Peneliti Ungkap Pengering Tangan dapat Mengirim Banyak Virus ke Tangan Dibanding Tisu

“Ini yang sekarang sedang dikerjakan. Betul bapak-ibu, mungkin kita hanya bisa bertahan hanya 1 hingga 2 bulan lagi kami juga memikirkan ini secara paralel,” tutur Yustinus.

Adapun pernyataan Yustinus tersebut sebagai tanggapan atas sejumlah PO yang menghadapi tekanan karena Covid-19.

Artinya, mereka sudah tidak beroperasi, tetapi masih memiliki kewajiban pembayaran angsuran kredit di bank.

Baca Juga: Ayah Pulang Bawa Covid-19, Bupati Bogor Paparkan Kronologi Satu Keluarga yang Terinfeksi

Di sisi lain, Ketua Persatuan Angkutan Pariwisata Bali Nyoman Sudiarta mengaku pihaknya sudah merumahkan sopir dan karyawan.

Pasalnya, sejak Februari 2020 sudah tidak ada lagi wisatawan ke Bali. Secara detail, Nyoman menyebutkan total armada pariwisata di Bali sebanyak 1,200 unit dengan 2.000 kru dan 300-500 pegawai.

“Semenjak wabah Covid-19 ini sebenarnya okupansinya sudah menurun 80 persen. Kemudian ada PM 25 ini sudah tidak ada tamu lagi, kami tidak ada operasi karyawan dirumahkan, sopir pulang kampung semua,” jelas Nyoman.

Baca Juga: IU Dikonfirmasi Berkolaborasi dengan Suga BTS Comeback Mendatang, Fans Sambut Antusias

Hal senada juga disampaikan Direktur PO NPM Angga Vircansa Chairul. Ia mengatakan penghentian operasional bus karena Covid-19 ini berdampak langsung pada 200 kepala keluarga.

“Kami memiliki 133 pengemudi, kru sebanyak 70 orang, artinya ada 200 lebih kepala keluarga yang terdampak langsung,” pungkas Angga.***

Editor: Suci Nurzannah Efendi

Tags

Terkini

Terpopuler