Lebih Berbahaya Karhutla saat Pandemi, Pengamat: Tingkatkan Kematian Pasien Positif Covid-19

- 30 Agustus 2020, 11:15 WIB
Asap mengepul akibat kebakaran lahan, di Kerinci, Jambi, Sabtu 8 Agustus 2020. Gubernur Jambi Fachrori Umar menyebutkan sebanyak 258 desa di sejumlah kabupaten di provinsi itu berstatus daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Asap mengepul akibat kebakaran lahan, di Kerinci, Jambi, Sabtu 8 Agustus 2020. Gubernur Jambi Fachrori Umar menyebutkan sebanyak 258 desa di sejumlah kabupaten di provinsi itu berstatus daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). /WAHDI SEPTIAWAN/ANTARA FOTO

"Jadi harus dicegah. Karhutla tidak boleh terjadi dan penularan juga harus ditiadakan," jelas Pandu, seperti dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari Antara News.

Untuk itu, Pandu mengatakan masyarakat harus bersiapa tidak akan bisa kembali ke situasi Indonesia seperti sebelum pandemi.

"Kita akan menuju Indonesia yang berbeda," tegas Pandu.

Baca Juga: Sindir Kebijakan Ganja Mentan Syahrul, Demokrat: Biasa Bersikap Mencla Mencle, Pak?

Sementara itu, menjalani hidup saat masa pandemi menjadi lebih berisiko, tetapi faktanya kampanye penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak minimal satu meter (3M), tidak nampak kuat.

Padahal, penggunaan masker menjadi cara paling murah dan efektif menurunkan risiko penularan Covid-19 di masyarakat.

Dengan demikian, ia mengakhiri pernyataan dengan menyarankan masyarakat harus sadar untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain.***

Halaman:

Editor: Khairunnisa Fauzatul A


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x