Langkah Antisipatif Jelang Musim Kemarau 2024

- 22 Maret 2024, 15:26 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi /Bing/Ai

SABACIREBON - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi  iklim cuaca sepanjang 2024 kemungkinan lebih bersahabat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

BMKG memprediksi, musim kemarau 2024 akan mundur dan sejumlah wilayah juga akan mengalami musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dari biasanya, demikian penjelasan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan.,
 
Dengan kondisi tersebut, kemungkinan gagal panen dan sejumlah target musim tanam bagi sektor pertanian, termasuk padi, tidak akan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
 
 
Tahun lalu, hingga Oktober dasarian II, El Nino moderate dan IOD positif masih bertahan. BMKG memprediksi El Nino pada level moderat hingga periode Desember 2023-Januari-Februari 2024.
 
Dampak dari kondisi tersebut adalah produksi tanaman pangan terancam mengalami penurunan akibat terganggunya siklus masa tanam, gagal panen, kurangnya ketahanan jenis atau penyebaran hama yang aktif pada kondisi kering.
 
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Konferensi Pers Awal Musim Kemarau di Kantor BMKG, Jakarta, Jumat (15/3/2024) berkata, “Terdapat sejumlah wilayah yang mengalami musim kemarau di bawah normal.”
 
 
Meskipun begitu, Dwikorita menambahkan, sebanyak 22 persen wilayah zona muim (ZOM) di Indonesia sedang mengalami masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau (periode pancaroba).
 
Itulah sebabnya, Dwikorita menyampaikan, perlu kewaspadaan masyarakat pada periode ini. Sebab, cuaca ekstrem seringkali terjadi dan dapat mengganggu aktivitas.
 
Adapun wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal yaitu sebagian kecil Aceh, Sumatra Utara, dan Riau.
 
 
Beberapa wilayah yang juga mengalami sifat musim kemarau adalah sebagian Kepulauan Bangka Belitung, sebagian Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah.
 
Sedangkan, wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di atas normal yaitu sebagian kecil pesisir selatan Sumatra Barat, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT.
 
Selain itu juga terjaadi di sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian kecil Kalimantan Utara, bagian selatan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, bagian utara dari Gorontalo dan Sulawesi Utara, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan sebagian besar Papua Selatan.
 
 
Pada kesempatan itu, Dwikorita juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi musim kemarau 2024.
 
Dia mengatakan, pemerintah dan seluruh masyarakat harus lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau bawah normal.
 
Lebih jauh, Dwikorita membeberkan, wilayah yang mengalami kondisi tersebut juga diprediksi dapat mengalami peningkatan risiko bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan kekurangan sumber air.
 
Dari gambaran itu, BMKG menyimpulkan musim kemarau 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia mundur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Adapun puncak musim kemarau 2024 diprediksikan terjadi pada Juli dan Agustus 2024.***

Editor: Otang Fharyana

Sumber: indonesia.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah