Rehabilitasi Mangrove di Kaltara: Menghidupkan Kembali Ekosistem Pesisir

- 27 Februari 2024, 22:49 WIB
Wisata Mangrove di Pulau Mapat, Desa Tanjung Buka, Tanjung Palas Tengah, Bulungan, Kalimantan Utara.
Wisata Mangrove di Pulau Mapat, Desa Tanjung Buka, Tanjung Palas Tengah, Bulungan, Kalimantan Utara. /MC/Bulungan

SABACIREBON - Bulungan, Kaltara, Pulau Mapat, Desa Tanjung Buka, merasakan manfaat dari rehabilitasi mangrove. Pemprov Kaltara bersama Bank Dunia turut berperan dalam menyelamatkan ekosistem penting ini.

Rehabilitasi mangrove di Kaltara memberi harapan baru bagi ekosistem pesisir. Melalui upaya bersama pemerintah dan dukungan Bank Dunia, kawasan seperti Pulau Mapat telah mengalami perubahan positif yang menguntungkan masyarakat setempat.

Mengatasi Degradasi Mangrove di Kaltara, Meskipun kondisi mangrove di Kaltara cukup baik secara umum, beberapa wilayah mengalami degradasi akibat aktivitas manusia. Pembukaan lahan untuk tambak dan pencemaran lingkungan menjadi tantangan utama yang dihadapi.

Baca Juga: Taman Laut Olele: Surga Tersembunyi di Gorontalo. Simak Selengkapnya

Upaya Rehabilitasi yang Dilakukan Pemerintah Kaltara, bekerjasama dengan Bank Dunia, telah melakukan upaya rehabilitasi mangrove sejak tahun 2017. Penanaman mangrove dilakukan di berbagai lokasi, termasuk Pulau Mapat, untuk mengembalikan fungsi ekologi kawasan pesisir.

Manfaat Positif bagi Masyarakat dan hasil dari rehabilitasi mangrove sudah mulai terlihat. Hasil tangkapan ikan, udang, dan kepiting meningkat, memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

Selain itu, hutan mangrove yang kembali hijau juga menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai biota laut.

Baca Juga: Indonesia Bangga: 7 Paten Roket RHan-122B, Alutsista Buatan Anak Negeri

Rencana Jangka Panjang untuk Kaltara merupakan rencana rehabilitasi mangrove Kaltara yang berhenti di sini. Dalam kurun 10 tahun ke depan, lebih dari 181 ribu hektare mangrove direncanakan akan direhabilitasi. Hal ini sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Halaman:

Editor: Otang Fharyana

Sumber: indonesia.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah