Beda Cara Muhammadiyah Persis dan NU Menentukan Hilal

- 29 April 2022, 17:21 WIB
Berbeda. Tiga ormas utama Islam Indonesia, berbeda dalam menentukan hilal./pikiran-rakyat.com
Berbeda. Tiga ormas utama Islam Indonesia, berbeda dalam menentukan hilal./pikiran-rakyat.com /
 
SABACIREBON - Walau pada penentuan awal Ramadan 1443 H/2022 M terjadi perbedaan, maka untuk 1 Syawal kemungkinan besar akan bersama.
 
Perbedaan terjadi karena adanya sikap dalam menentukan kriteria hilal. 
 
Umat Islam dengan bulan hijriahna menggunakan penentuan penanggalan dan kalendernya berdasarkan perputaran bulan.
 
Sedangkan untuk waktu shalat berpatokan pada peredaran dan posisi matahari.
Perputaran bulan dan peredaran matahari serta benda langit lainnya, bisa diprediksi.
 
Bisa diamati dan dihitung atau dihisab. Dalam khazanah Islam, ilmu untuk menghisab disebut dengan Ilmu Falaq. Dalam khazanah ilmu pengetahuan umum dikenal dengan ilmu astronomi.
 
Dengan kemahiran para ahli ilmu falaq, ditambah dengan bantuan teknologi yang semakin canggih, penghisaban atas peredaran dan perputaran matahari, semakin akurat. 
 
Para pakar hisab ini sudah bisa mengetahui posisi bulan di hari tertentu di 4-5 tahun mendatang.
 
Canggih sekali.
Tiga organisasi massa keislaman di Indonesia, Muhammadiyah, Persis dan NU memiliki ulama ulama yang mendalami ilmu falaq. Mahir dalam menghisab.
Hasil hisab para pakar di tiga ormas Islam itu, relatif sama. 
 
Wong ilmu dan teori yang digunakannya sama.
 
Nah lho.
Kalau hasil hisabnya sama, kenapa dalam penentuan awal Ramadhan atau awal Syawal kadang berbeda.
 
Di sinilah perbedaannya. Yakni berbeda dalam menentukan kriteria dalam hilal.
 
Dimana perbedaannya?
 
Untuk menentukan awal Ramadhan maupun awal Syawal, Muhammadiyah hanya berpatokan pada hasil hisab posisi bulan. Bila menurut hisab, hilal sudah ada, atau disebut dengan wujudul hilal, maka awal bulan Ramadhan atau syawal, sudah masuk. 
 
Berapa derajat pun ketinggian hilal. Apakah ketinggiannya 0,5 apalagi lebih, awal bulan baru sudah masuk.
 
Untuk menentukan awal bulan itu, Muhammadiyah hanya menggunakan metode hisab. Tidak perlu rukyat, atau melihat, meneropong posisi bulan secara fisik.
 
Ormas lainnya, Persis juga hanya berpegang hasil hisab. 
Akan tetapi, Persis menentukan kriteria posisi bulan untuk menentukan hilal itu.
 
Sebagaimana diposting di laman FB@Persis, pakar ilmu falaq Persis, Abu Sabda El-Falaqi menguraikan kriteria itu. Intinya, Sejak tahun 1960 Persis memposisikan diri dengan metode hisab. Bahkan pada tahun 2001 ditegaskan dengan SK Dewan Hisbah.
 
Terkait sistem hisab, kemudian Persis menggunakan sistem hisab paling akurat, yakni hisab hakiki tadqiqi dan hisab hakiki ashri (kontemporer).
Lebih dari 7.000 suku koreksi digunakan untuk menghisab posisi bukan dan matahari.
 
Sesuai dengan perkembangan pembacaan dan pemaknaan terhadap teks dalil quran dan as-Sunnah, Persis menggunakan hisab ijtimak qablal ghurub, untuk penetapan awal bulan hijriyah.
 
Kemudian dari tahun 1996 hingga 2001 berkembang menjadi kriteria hisab wujudul hilal.
 
Dari tahun 2002 hingga sekarang, Persia menggunakan kriteria hisab visibiltas hilal/imkan rukyat, dengan syarat ketampakan hilal pada posisi tinggi bulan 2 derajat, elongasi 3 derajat dan umur bulan 8 jam.
 
Kriteria syarat posisi bulan sebagaimana juga kesepakatan pemerintah negara MABIMS, Malaysia, Brunei, Indonesia, Singapura.
 
Kemudian sejak tahun 2013, Persis memperbaharui kriteria tersebut dengan memakai imkan rukyat LAPAN yakni tinggi bulan 3 derajat, elongasi 6 derajat dan umur bulan 4 jam. Kriteria 3,6,4 ini pula yang kemudian jadi kesepakatan MABIMS.
 
Dengan demikian, bagi Persis  awal bulan Ramadhan atau Syawal sudah masuk, bila posisi bulan sudah di atas 3 derajat. Sedangkan NU dan  juga  pemerintah, akan berpatokan pada hasil rukyat, hasil dari peneropongan atau penglihatan, walau NU juga melakukan hisab. 
 
Berapa derajat pun posisi tinggi bulan hasil hisab, NU dan pemerintah akan memutuskan atas hasil rukyat.
 
Di sinilah, bila hasil hisab atau posisi bulan di bawah 2 derajat, pasti akan terjadi perbedaan awal Ramadhan atau Syawal.
 
Tentu, untuk menentukan kriteria hilal, ketiga organisasi bersandar pada dalil dan nash yang diyakininya.
 
Bagi umat yang awan, silakan pilih sesuai keyakina masing masing. 
Tak perlu saling berselisih. Atau saling menyalahkan.
Jangan sampai ibadah kita dinodai perselisihan.***
 
 
ReplyForward
 
 
 
 

Editor: Aria Zetra


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah