Mengenal Boeing 737-500, Disebut jadi Salah Satu Pesawat yang Banyak Laku Terjual

11 Januari 2021, 05:00 WIB
Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Boeing 737-500. /Tangkapan layar Twitter.com/@flightradar24/Twitter.com/@flightradar24
PR CIREBON - Pesawat Sriwijaya Air tipe Boeing 737-500 yang jatuh, diketahui telah berumur hampir 27 tahun dan dianggap sudah tua.
 
Sriwijaya Air SJ 182 tersebut dilaporkan hilang kontak, hingga akhirnya diduga jatuh di periran Kepulauan Seribu pada Sabtu, 9 Januari 2021.
 
Pesawat dengan tipe Boeing 737-500 tersebut merupakan dua generasi pengembangan sebelum Boeing 737 MAX terbaru.
 
Baca Juga: Teddy Gusnaidi ke SBY: Indonesia Tak akan Sesulit ini Jika Anda Tak Pernah jadi Presiden
 
Dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari Reuters, Boeing 737 adalah keluarga dari pesawat yang paling banyak terjual di dunia.
 
Bahkan sudah laku terjual sejak mengalami beberapa perubahan sejak tahun 1968.
 
Namun, untuk Boeing 737-500 sendiri adalah sebuah tipe pesawat yang telah melewati dua generasi pengembang sebelum Boeing 737 MAX yang terbaru.
 
Baca Juga: Keluarga Ungkap Hal Tak Lazim pada Hari Jatuhnya Pesawat, Ketua RT Sebut Keseharian Kapten Afwan
 
Pesawat yang pernah terlibat dalam sebuah krisis keselamatan di seluruh dunia, kini menyusul sebuah kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia.
 
Para ahli mengatakan bahwa pesawat seperti Boeing 737-500 akan dihapuskan menggunakan model hemat bahan bakar yang terbaru.
 
Untuk ukuran pesawat atau jet yang biasa di gunakan untuk warga sipil biasanya hanya memiliki umur 25 tahun.
 
Baca Juga: TNI AU dan TNI AL Kerahkan Tim Pencarian Pesawat Sriwijaya Air, Siapkan Helikopter dan Penyelam
 
Dengan artian harga pesawat tersebut akan menjadi lebih mahal untuk digunakan dalam penerbangan dan melebihi model pesawat yang lebih muda namun dibuat agar bertahan lebih lama.
 
Indonesia sendiri memiliki catatan keselamatan udara yang tambal sulam.
 
Pada tahun 2007, Uni Eropa melarang semua maskapai penerbangan Indonesia menyusul serangkaian kecelakaan dan laporan tentang penurunan pengawasan dan pemeliharaan sejak deregulasi pada akhir 1990-an.
 
Baca Juga: Akan Divaksinasi Pekan Depan, Paus Fransiskus Mengajak Masyarakat untuk Ikut Divaksin
 
Namun, pembatasan tersebut sepenuhnya telah dicabut pada tahun 2018.
 
Sistem keamanan Indonesia disebut tidak memadai, sehingga pada tahun 2007 dan 2016 administrasi Penerbangan Federal AS menurunkan evaluasi keselamatan Indonesia.
 
Namun, pihak Pemerintah Indonesia telah berupaya bekerja keras untuk memprioritaskan keselamatan standar internasional.***

Editor: Tyas Siti Gantina

Sumber: REUTERS

Tags

Terkini

Terpopuler