Memahami Directed Acyclic Graph (DAG) dalam Mata Uang Kripto

- 22 Maret 2024, 16:01 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi /Bing/Ai

 SABACIREBON - Ketika berbicara tentang mata uang kripto, maka otomatis akan muncul istilah-istilah istilah “blockchain” atau “teknologi ledger terdistribusi”.

Sejak diluncurkannya Bitcoin, ratusan aset kripto lainnya telah dibuat, sebagian besar mengandalkan arsitektur jaringan yang serupa.
 
Blockchain adalah blok baru yang ditambahkan secara berkala ke chain blok yang terus bertumbuh. Setiap blok dihubungkan ke blok sebelumnya dengan tautan kriptografi (hash), dan setiap blok berisi transaksi terbaru yang telah dibroadcast oleh pengguna.
 
 
Namun, sering kali ada periode menunggu antara proses broadcast dan dimasukkannya transaksi ke dalam blok. Ini bisa memakan waktu dari hitungan detik hingga jam agar transaksi dikonfirmasi.
 
Bagi banyak orang, ini dapat dimaklumi. Yang penting, teknologi ini memberikan tingkat keamanan yang sangat tinggi tanpa bergantung pada koordinator terpusat.
 
Namun, bagi yang lain, teknologi blockchain memiliki tanggal kedaluwarsa. Mereka yakin bahwa masalah skalabilitas yang dihadapi oleh teknologi blockchain akan mencegah adopsi massal dalam jangka panjang.
 
 
Beberapa orang percaya bahwa masa depan jaringan pembayaran mata uang kripto ada pada arsitektur yang sama sekali berbeda – directed acyclic graph (atau DAG).
 
DAG adalah jenis struktur data yang berbeda, seperti database yang menghubungkan berbagai informasi secara bersamaan. “Directed acyclic graph” atau grafik asiklik terarah adalah istilah yang menarik.
 
Secara konseptual, DAG terdiri dari simpul (bulatan) dan ujungnya (garis-garis yang menghubungkan satu sama lain). Diarahkan karena bulatan-bulatan tersebut mengarah ke satu arah. Bersifat asiklik (bukan siklik) karena simpul tidak berputar kembali ke inti sendiri.
 
 
Struktur data seperti ini umumnya digunakan untuk memodelkan data. Anda dapat mengandalkan DAG dalam bidang ilmiah atau medis untuk mengamati hubungan antara variabel dan untuk menentukan bagaimana mereka saling mempengaruhi.
 
Untuk tujuan kita, kita lebih tertarik pada bagaimana DAG dapat membantu mencapai konsensus dalam jaringan mata uang kripto terdistribusi.
 
Dalam mata uang kripto berbasis DAG, setiap simpul dalam struktur mewakili transaksi. Tidak ada blok di sini, juga tidak diperlukan penambangan untuk memperluas basis data.
 
 
Jadi alih-alih mengumpulkan transaksi ke dalam blok, setiap transaksi dibangun di atas yang lain. Namun, ada operasi Proof-of-Work kecil yang dilakukan saat node mengirimkan transaksi.
 
Untuk menambahkan transaksi baru, transaksi tersebut harus dibangun di atas transaksi lama. Misalkan Alice membuat transaksi baru. Agar diakui, transaksi ini harus merujuk ke yang sebelumnya.
 
Ini sedikit mirip seperti blok dalam Bitcoin merujuk ke blok sebelumnya. Namun, dengan DAG, tidak ada periode menunggu untuk konfirmasi transaksi, yang berarti transaksi dapat diproses dengan lebih cepat.
 
 
Selain itu, karena tidak ada penambangan, mata uang kripto berbasis DAG juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan mata uang kripto berbasis blockchain.
 
Meskipun DAG menawarkan banyak keuntungan, teknologi ini masih baru dan perlu lebih banyak penelitian dan pengujian sebelum dapat sepenuhnya menggantikan blockchain dalam mata uang kripto.***

Editor: Otang Fharyana

Sumber: academic.binance.com


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah