Kemenkes Siapkan 5,4 Juta Telur Nyamuk Ber-Wolbachia untuk Bandung

- 29 Maret 2024, 05:09 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi /Bing/Ai

SABACIREBON - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang mempersiapkan kebutuhan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk uji coba pengendalian dengue di Kota Bandung, Jawa Barat. Kebutuhan tersebut mencapai 5,4 juta lebih per pekan.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu, mengatakan  kebutuhan telur nyamuk ber-Wolbachia akan dikirim dari insektarium Universitas Gajah Mada atau Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga.

“Tahun 2024 di pekan ke-10, kasus dengue terlaporkan sebanyak 27.852 kasus dan kematian sebanyak 250 kematian. Kota Bandung merupakan kota dengan kasus dengue tertinggi di Indonesia mencapai 1.301 kasus dan kematian yang cukup tinggi, tujuh kematian,” katanya.

Baca Juga: Sosialisasi BP2MI Kepada PMI Lakukan Prosedur Yang Benar dan Legal 

Dalam pertemuan koordinasi pilot project teknologi Wolbachia dengan Pemerintah Kota Bandung, disampaikan bahwa kebutuhan telur nyamuk ber-Wolbachia berdasarkan luas lahan Kota Bandung 129 kilometer persegi diperkirakan mencapai 5.410.000 telur per pekan.

Agar sebaran nyamuk ber-Wolbachia efektif, maka dibutuhkan 20.782 titik penitipan ember yang menjadi sarang perkembangbiakan telur.

Kemenkes akan memanfaatkan citra satelit untuk memposisikan ember pada lokasi yang tepat dengan merekrut masyarakat setempat sebagai orang tua asuh pelaksanaan uji coba nyamuk ber-Wolbachia.

Baca Juga: Telkomsel Sediakan Jaringan 4G di 14 Kapal Mudik dan 83 Pelabuhan 

Sesuai panduan yang diterbitkan Peneliti Pusat Kedokteran Tropis UGM, metode pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilakukan menggunakan ember berisi air bersih yang tersimpan 250 hingga 300 telur nyamuk dengan angka penetasan telur sekitar 90 persen. Setiap ember diletakkan pada jarak 75 meter per segi.

Jumlah ember berisi telur nyamuk minimal harus mencapai 10 persen dari populasi Aedes aegypti di daerah tersebut dan penyebarannya dilakukan sebanyak 12 kali. Satu kali penyebaran diasumsikan hanya 1 persen dari populasi nyamuk.

Universitas Gajah Mada, Yayasan Tahija dan Monesh University bekerja sama melakukan inovasi Program penanggulangan dengue berteknologi nyamuk ber-Wolbachia selama kurang lebih 10 tahun.

Baca Juga: Kementerian Kesehatan Malaysia Selidiki Temuan Kain Lap di Martabak 

Wolbachia adalah bakteri alami, simbion yang umum ditemukan di hewan arthropoda, dengan mekanisme menghambat replikasi virus dengue yang diperankan oleh Wolbachia.

Hasil penelitian tersebut mampu menurunkan 77 persen incidence rate (IR) dengue dan mengurangi risiko perawatan di rumah sakit sebesar 86 persen.

Atas pertimbangan itu, Kemenkes mengadopsi teknologi Wolbachia dengan menerbitkan Kepmenkes Nomor 1341 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Teknologi Wolbachia di lima kota yaitu Semarang, Bontang, Jakarta Barat, Kupang, dan Kota Bandung.

Baca Juga: Cinta Laura: Produktif Selama Ramadhan dan Menjadi Duta Komunikasi Forum Air Dunia 

Dengan teknologi ini, Kemenkes berharap dapat mengendalikan penyebaran dengue di Kota Bandung dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Kemenkes dalam mendukung ketahanan kesehatan nasional, khususnya dalam penanggulangan penyakit dengue.***

Editor: Otang Fharyana

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah