BNPB Ingatkan Ancaman 700 Ribu Meter Kubik Material Vulkanik Marapi

- 11 Juni 2024, 13:00 WIB
Sejumlah warga berdiri di sekitar bantaran sungai pascabanjir lahar dingin yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Sejumlah warga berdiri di sekitar bantaran sungai pascabanjir lahar dingin yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat. /ANTARA/Muhammad Zulfikar

SABACIREBON - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan terdapat sekitar 700 ribu meter kubik material vulkanik di sekitar Gunung Marapi yang berpotensi menjadi ancaman susulan setelah banjir lahar dingin. 

Direktorat Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB mengingatkan adanya ancaman material vulkanik yang masih tersisa di sekitar Gunung Marapi. Saat ini, terdapat sekitar 700 ribu meter kubik material vulkanik yang perlu diwaspadai pascaerupsi.

Menurut Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Udrekh, material tersebut berpotensi menjadi ancaman serius jika tidak segera ditangani. "Saat ini masih ada sekitar 700 ribu meter kubik material vulkanik pascaerupsi Gunung Marapi yang perlu diwaspadai," ujarnya di Padang, Sumatera Barat, Senin (10/06/2024).

BNPB menegaskan pentingnya pemasangan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di kawasan Gunung Marapi. Udrekh menyebutkan bahwa pemasangan instrumen peringatan dini ini sangat penting untuk mengantisipasi potensi bahaya di wilayah terdampak. "Pemasangan instrumen peringatan dini ini sangat penting untuk mengantisipasi potensi yang masih akan terjadi di wilayah terdampak," tambahnya.

Ia menjelaskan, sistem peringatan dini ini akan mengintegrasikan berbagai informasi seperti cuaca, aktivitas gunung api, getaran, dan sensor cuaca. Berbagai informasi tersebut akan memberikan rekomendasi kepada pemangku kepentingan sebagai bentuk kesiapsiagaan maupun langkah mitigasi terhadap potensi dampak bencana.

Untuk mengantisipasi ancaman material vulkanik tersebut, BNPB bersama tim dan dukungan BPBD Sumbar akan melakukan survei sebagai langkah awal pemasangan alat peringatan dini. BNPB juga telah mendapatkan data dan informasi spasial kondisi pascabencana lahar dingin, yang akan membantu tim menentukan titik perangkat sebagai bagian dari sistem peringatan dini.

Udrekh menekankan bahwa implementasi sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada perangkat atau fasilitas teknologi saja. "Implementasi sistem peringatan dini membutuhkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Marapi," jelasnya.

Sosialisasi tersebut bertujuan agar warga memahami dan melakukan aksi dini apabila mendengar bunyi sirene peringatan dini. Selain itu, setelah mendapatkan sosialisasi, masyarakat juga didorong untuk merawat EWS agar tetap berfungsi dengan baik.

BNPB berharap dengan pemasangan sistem peringatan dini dan sosialisasi kepada masyarakat, potensi ancaman material vulkanik dapat diminimalisir. "Kami berharap langkah-langkah ini dapat meminimalisir dampak dan ancaman material vulkanik terhadap masyarakat sekitar Gunung Marapi," tutup Udrekh.

Halaman:

Editor: Buddy Nugraha

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah