Luhut Yakin Indonesia 2024 Bisa Produksi Baterai Lithium Tipe 811, Upaya Hentikan Ekspor Mentah

- 16 September 2020, 07:30 WIB
MENKO Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan.*/ANTARA /

PR CIREBON - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinvest), Luhut Binsar Pandjaitan tengah menargetkan Indonesia tahun 2024 sudah bisa memproduksi baterai litium tipe teranyar 811, seperti disampaikan Luhut dalam Sarasehan 100 Ekonom secara virtual di Jakarta pada Selasa, 15 September 2020.

Detailnya, Luhu menyebut Indonesia telah menandatangani kerja sama investasi pengembangan baterai litium dengan LG Chem dan CATL, perusahaan asal Korea Selatan dan Tiongkok yang memproduksi baterai untuk kendaraan listrik.

"Kami sudah tanda tangan (pengembangan) lithium battery dengan LG Chem dan CATL. Itu proposalnya sudah dibuat. Di samping itu skala project, timeline, sudah ada, investasi, insentif, semua sudah kita siapin. Kita berharap tahun 2024 kita sudah produksi lithium battery tipe terakhir yaitu 811," ungkap Luhut Binsar Pandjaitan, belum lama ini.

Baca Juga: Citra Islam Indonesia Hancur usai Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber, PBNU: Teror Ulama Tak Bermoral

Lebih lanjut, Luhut menilai ini sebagai salah satu upaya untuk bisa mendorong pengembangan industri baterai listrik, yakni mendorong hilirisasi yang gencar digemborkan tersebut.

Tak lupa, ia pun sempat menyinggung posisi Indonesia sudah terlalu sering melakukan ekspor material mentah, padahal bahan baku tersebut bisa diolah di Indonesia dan bernilai tambah lebih tinggi.

"Ini salah satu smelter tembaga, berpuluh tahun, hampir 50 tahun, semua kita ekspor saja. Maka saya lapor ke Presiden, 'Pak sekarang kita harus paksa, kita harus bikin smelter di sini.' Dan sekarang bikin smelter, satu di Gresik, tapi tidak jadi-jadi," jelas Luhut dengan nada tinggi, seperti dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com dari Antara News.

Baca Juga: Terbongkar Alasan TKA Banyak Datang ke Indonesia, Menko Luhut: Ada Sarjana, tapi Kurang Ahli

Untuk itu, saat ini pemerintah mendorong agar bisa dibangun smelter di Halmahera Tengah, seiring dengan bahan baku tembaga diambil dari Timika. Artinya, adanya industri terintegrasi di Halmahera Tengah, diharapkan bisa menekan biaya produksi yang lebih rendah.

"Kalau kita lakukan ini, kita akan dapat lagi nanti kabel tembaga, pipa tembaga, dan satu yang penting, asam sulfat. Ini kita butuhkan untuk bagian baterai litium. Jadi 75-80 persen baterai litium itu akan kita punya di Indonesia," tambah Luhut.

Halaman:

Editor: Khairunnisa Fauzatul A

Sumber: Antara News


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X