Jangan Ucapkan Peda di Desa Citengah dan Ucing di Desa Cipancar. Mengapa?

- 12 Mei 2022, 08:08 WIB
Peda. Apa beul 2 kebiasaan tidak lazim menyebabkan banjir bandang dan merusakan objek wisata Citengah Sumedang./pikiran-rakyat.com
Peda. Apa beul 2 kebiasaan tidak lazim menyebabkan banjir bandang dan merusakan objek wisata Citengah Sumedang./pikiran-rakyat.com /
 
 
SABACIREBON - Desa Citengah yang berada di Kecamatan Sumedang Kabupaten Sumedang Jawa Barat, baru saja lepas  dari penderitaan.
 
Desa yang lebih dikenal dengan obyek wisata alamnya, awal Mei 2022 ini dihantam banjir bandang.
 
Awalnya, Rabu sore itu, hujan turun dengan derasnya. Hujan turun dengan intensitas.
 
 
Masih beruntung, banjir bandang tidak menyentuh lokasi lokasi wisata yang bertebaran sekitar Citengah. Lokasi wisata masih utuh seperti sediakala.
 
Banjir bandang merendam dan merusak rumah rumah penduduk Desa Citengah. Juga sejumlah kendaraan roda empat dan roda dua hanyut tersapu banjir bandang. Terseret beberapa puluh meter dari tempat semula.
 
Desa Cipancar yang berdampingan dengan Desa Citengah, juga turut jadi korban banjir bandang. Di Desa Cipancar tidak ada lokasi wisata.
 
 
Beberapa waktu lalu, dua desa ini, Citengah dan Cipancar meniliki kebiasaan yang unik dan mistis.
 
Ada kata kata yang tabu diucapkan oleh seluruh warga desa. Termasuk juga tabu diucapkan oleh pendatang atau tamu saat berada di wilayah dua desa itu.
 
Bila saja ada yang mengucapkan kata yang ditabukan itu, musibah akan datang, tidak hanya terhadap orang yang mengucapkannya, namun juga bagi desa itu.
 
 
Di Citengah, kata yang tabu diucapkan itu adalah "peda" atau ikan asin.
Odi, yang dijadikan sesepuh Desa Citengah, larangan atau tabu mengatakan peda sudah berlangsung lama. Namun Odi tidak tahu persis.
 
Konon, kata Odi, dulu ada orang sakti yang melarang mengucapkan kata itu. Makam orang yang dianggap sakti itu ada di Desa Citengah. Dianggap sebagai makan keramat.
 
Menurutnya, tidak ada yang tahu dan tidak boleh ada yang tahu, nama orang sakti itu.
 
 
Pada nisan makan orang sakti itu pun tak ada tulisan. Makamnya dibatasi jejeran batu batu berbentuk segi empat dan nisan di bagian kepala dan kaki. Makam berada di bawah pohon besar nan rindang.
 
Dalam acara di Trans7, Iyul, warga Citengah menceriterakan, musibah yang terjadi akibat ada orang mengucapkan kata peda.
 
Ada orang datang ke Citengah terus mengucapkan kata peda. Ketika pulang, kendaraannya tergelicir.
 
Pernah juga ada sekelompok warga sedang membakar peda. Datang yang lainnya dan berkata: "Wah lagi bakar peda. Asyik," kata Iyul menirukan orang itu.
 
 
"Saat itu siang hari cuaca panas. Tiba tiba berubah dan turun hujan dengan derasnya beserta angin," tutur Iyul.
 
Untuk menghindari musibah, warga desa mengganti kata peda dengan "bedog mintul".
 
Sedangkan di Desa Cipancar, kata yang ditabukan adalah "ucing". Orang Sunda menyebut kucing dengan kata ucing. Namun di Cipancar, tabu untuk mengatakan ucing. Gantinya, mereka menyebut "enyeng" untuk ucing.
 
Ada saja yang berani menyebut ucing, musibah akan datang.
 
 
Sejalan dengan perkembangan zaman, ketabuan itu makin berkurang.
"Kesadaran beragama semakin tinggi," kata ustadz Yusuf, tokoh Cipancar.
Ditambah lagi makin banyak warga yang mengenyam pendidikan lebih tinggi. Banyak yang bertitel sarjana.***
 
 
 
 
 
 
ReplyForward
 
 
 
 

Editor: Aria Zetra

Sumber: liputan


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

x