Tuding Tiongkok Memblokir Penerbangan Negaranya, AS Tuntut Tindakan

- 23 Mei 2020, 18:05 WIB
PENERBANGAN pesawat peluncur bom B-1B Lancer di perairan Tiongkok adalah tanda meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan AS.*

 

PIKIRAN RAKYAT - Pemerintah AS pada Jumat malam tuding pemerintah Tiongkok membuat maskapai AS tidak bisa melanjutkan layanan ke Tiongkok, juga memerintahkan empat maskapai penerbangan Tiongkok untuk membuat jadwal penerbangan dengan pemerintah AS.

Administrasi Presiden Donald Trump berhenti memaksakan pembatasan pada maskapai penerbangan Tiongkok, namun mengatakan pembicaraan dengan Tiongkok telah gagal menghasilkan kesepakatan.

Dikutip PikiranRakyat-Tasikmalaya.com dari Reuters, Departemen Transportasi AS, yang berusaha membujuk Tiongkok untuk mengizinkan dimulainya kembali layanan penerbangan penumpang AS di sana, awal pekan ini sempat menunda beberapa penerbangan charter Tiongkok karena tidak mematuhi persyaratan pemberitahuan.

 Baca Juga: Cek Fakta: Google Disebut Rayakan Ultah ke-21 dengan Bagikan Paket Internet, Simak Faktanya

Dalam sebuah pesan yang diposting di situs web pemerintah AS, departemen mencatat Delta Air Lines dan United Airlines ingin melanjutkan penerbangan ke Tiongkok pada Juni, bahkan ketika maskapai penerbangan Tiongkok melanjutkan penerbangan AS selama pandemi Covid-19.

Perintah itu mengatakan Air China, China Eastern Airlines Corp, China Southern Airlines Co, Hainan Airlines Holding Co dan anak perusahaan mereka harus mengajukan jadwal dan rincian penerbangan lainnya sebelum 27 Mei.

Departemen memperingatkan, pihaknya dapat menemukan penerbangan Tiongkok 'bertentangan dengan hukum yang berlaku atau sebaliknya mempengaruhi kepentingan publik'.

Baca Juga: Cekcok di Sebuah Gang, Pemuda di Cirebon Tusuk Kerabatnya Sendiri hingga Tewas

United menolak berkomentar Operator AS dan Tiongkok lainnya, Otoritas Penerbangan Sipil Tiongkok (CAAC) dan kementerian luar negeri tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar.

Halaman:

Editor: Suci Nurzannah Efendi

Sumber: Reuters


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X