Unan-Unan dan Tradisi Lima Tahunan Masyarakat Tengger, Simak Disini

- 18 Mei 2024, 22:40 WIB
Warga suku Tengger mengikuti tradisi Ritual Unan-Unan di sanggar Desa Wonotoro, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur
Warga suku Tengger mengikuti tradisi Ritual Unan-Unan di sanggar Desa Wonotoro, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur /ANTARA FOTO/Umarul Faruq

SABACIREBON – Suku Tengger di Jawa Timur tetap menjaga tradisi budaya mereka yang unik dan berharga, salah satunya adalah upacara unan-unan yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali.

Upacara ini memiliki tujuan mempersembahkan rasa syukur kepada alam serta memperpanjang bulan dalam kalender Tengger.

Tradisi unan-unan digelar dengan mempersembahkan sesaji berupa kepala kerbau. Kerbau dipilih sebagai sesaji karena diyakini sebagai hewan pertama yang muncul di bumi. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan masih dijaga kelestariannya hingga sekarang.

Baca Juga: Daftar Bansos Mei 2024: Bantuan Sosial Berlanjut untuk Kesejahteraan Rakyat

Pada tahun 2024, masyarakat Tengger yang mayoritas beragama Hindu Bali kembali menggelar upacara unan-unan. Upacara ini dilaksanakan di desa-desa yang dihuni oleh masyarakat Tengger, terutama di kawasan dataran tinggi Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru (TNGBTS).

Upacara unan-unan dilakukan di Kabupaten Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan Malang. Masyarakat di tiap desa menyiapkan 100 tusuk sate, 100 jenis jajanan pasar, hingga 100 tumpeng yang digabung dengan kepala kerbau utuh. Sesaji tersebut diletakkan di dalam keranda berbentuk tubuh kerbau yang dikenal sebagai ancak.

Pada pagi hari, sesaji diarak menuju lokasi persembahyangan, diikuti oleh seluruh warga dari berbagai agama seperti Hindu Bali, Islam, dan Buddha. Arak-arakan ini diiringi oleh alunan musik tradisional seperti gong, kendang, dan suling. Hal ini menunjukkan kuatnya toleransi antarumat beragama di kalangan masyarakat Tengger.

Baca Juga: Indonesia Terus Fokus Wujudkan Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan

Di Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, upacara unan-unan digelar sebagai permohonan agar diberikan keselamatan dan terhindar dari bencana. Desa ini terletak di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut, menjadikannya lokasi yang sakral untuk ritual tersebut.

Halaman:

Editor: Otang Fharyana

Sumber: indonesia.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah